WARTA SEPULUH

Jumat, 16 April 2010

Cahaya Kota Medan dari Sunggal



“Darimana…..? Sunggal? Kampung yang banyak kuburannya itu? Wah, nggak mungkin ada orang Sunggal bisa jadi calon walikota Medan. Kayak katak hendak terbang ke bulan saja mereka, hehehe….!”


Begitulah reaksi spontan orang jika mengetahui lawan bicaranya orang Sunggal. Ada nada sinis, sekaligus melecehkan di sana. Intinya, orang Sunggal itu warga pinggiran. Warga kelas dua. Tak usah punya cita-cita tinggi. Lho, kok ini ada yang mau jadi calon walikota?

“Sakit hati saya mendengar omongan tersebut. Tapi malam ini, bersama saudara-saudara sekalian, kita bisa buktikan bahwa putra Sunggal, Sofyan Tan, ternyata bisa juga menjadi calon walikota Medan!”teriak dr. Sofyan Tan. Nada suaranya berapi-api. Tempik sorak warga Sunggal, langsung membahana. Yel-yel “Hidup Sunggal”, “Putra Sunggal Yes, Sofyan Tan Oke” saling bergantian memenuhi udara Sunggal yang cerah malam itu.

Tak kurang dari 3.000 warga Sunggal malam itu memang tumplek ke tengah-tengah Lapangan Basket Gelora Sunggal milik Yayasan Sosial Go Sia Kong So Jalan Pinang Baris, Sunggal. Sebuah panggung raksasa berukuran sekitar 6 meter x 15 meter berdiri kokoh. Sebuah poster raksasa yang menampilkan foto Sofyan menjadi background panggung. “Malam Pemberangkatan Putra Sunggal Dr. Sofyan Tan Menuju Kursi Medan 1”, begitu nama acara malam itu.

“Merinding bulu tangan saya menyaksikan massa yang hadir. Bahkan saya hampir menangis, baru kali ini ada sebuah pertemuan politik di Sunggal yang dihadiri ribuan warga”,tutur Taufan, salah seorang tokoh masyarakat Sunggal. Bersama Marudut Naibaho, Taufan merupakan dua dari puluhan orang yang terlibat aktif menggagas acara malam itu. Seolah masih hampir tak percaya, Taufan masih menambahkan:

“Massa benar-benar memludak, saya terharu, terharu…”,tambah pria yang sehari-hari mengusahakan besi bekas itu. Ribuan bangku plastik yang disiapkan panitia, memang tak lagi mampu menampung warga yang datang. Alhasil banyak yang harus berdiri sepanjang acara. Ada juga yang terlihat duduk-duduk di atas sepeda motor. Bahkan sebagian ada yang rela menggelosor di lantai semen.

Malam itu seolah menjadi malam milik Sofyan Tan dan warga Sunggal yang hadir. Sofyan Tan adalah putra Sunggal kelahiran 25 September 1959. Dari atas panggung, malam itu ia berubah menjadi singa podium. Tidak kurang dari 25 menit ketika menyampaikan orasinya, nada suara Sofyan Tan terus terdengar berapi-api. Ia mampu menyihir warga Sungal yang hadir untuk tak meninggal tempat acara. Terkadang ia harus berhenti karena setiap kali berhasil membangkitkan harga diri warga Sunggal, tepuk tangan dan yel-yel kembali bergemuruh.

Beberapa tokoh masyarakat yang hadir pun terlihat ikut bertepuk tangan. Bahkan mereka kerap mengacungkan jari tangan mereka. Terlihat beberapa tokoh masyarakat Tionghoa hadir di situ, misalnya ada Khai Guan, juga Kwik Sam Ho, Karya Elly, Jasmin Chandra, Anam Aleng Subur, Acuk Appolo, Ahie, Hui Jordan, A Hong, A Puan, Hok An dan yang lain. Sedangkan tokoh masyarakat lain juga ada seperti Datuk Bahar, Ustaz H. Harun Habib, dan Nadli.



Cahaya Kota Medan dari Sungal

Ihwal orang Sunggal kerap “tak dihitung”, memang bukan cerita karangan. Sofyan Tan, bahkan mengalaminya sendiri. Dalam orasinya, ia lalu berkisah. Suatu saat, ketika masih sekolah di Medan, ia bertutur soal cita-citanya jadi dokter. Bukannya mendapat pujian atau dukungan, teman-teman SMA-nya dari Medan malah tertawa.

“Kamu orang kampung, mana mungkin jadi dokter?”ujar Sofyan, menirukan kata-kata mereka. Dibalas seperti itu, Sofyan remaja tentu saja sakit hatinya. Tapi ibarat pedati yang kena cambuk, “penghinaan” itu justru memicunya untuk belajar keras. Dan terbukti, ia bisa menjadi dokter. Sofyan juga kerap mendengar ejekan bahwa orang Sunggal umumnya tak banyak “makan sekolah” alias tak terdidik. Ia mengaku “panas” mendengar sindiran itu. Karena itu begitu lulus jadi dokter tahun 1990, Sofyan Tan memutuskan terjun mengelola Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan. Sekolah yang ia didirikan sejak tahun 1988.

Praktek dokternya ia tinggalkan. Ia kemudian menyantuni anak-ank Sunggal yang miskin agar bisa sekolah yang bagus. Jumlah anak asuhnya sudah ribuan orang. Sebagian dari mereka bahkan sudah banyak yang jadi “orang”. Tahun 2003, ia terpilih sebagai Ketua Presidum Forum Nasional Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

“Bayangkan, putra Sunggal bisa keliling-keliling wilayah Indonesia dengan gratis untuk membagi-bagikan ilmu tentang manajemen usaha kecil. Jadi siapa bilang orang Sunggal tidak bisa berprestasi?”,tegasnya lantang disambut tepuk tangan warga. Ia lalu memberikan kesaksian lain. Tahun 2009, ketika menyatakan diri sebagai bakal calon wakil walikota Medan, ia ditertawakan.

“Sofyan, kamu itu orang Tionghoa, Budhis lagi, mana mungkin jadi calon wakil walikota?”tutur Sofyan mengisahkan tanggapan beberapa kenalannya. Tapi Sofyan Tan tak kecil hati. Ia tetap aktif melakukan lobi-lobi ke berbagai pihak. Apalagi PDI Perjuangan, partai tempatnya bergabung, telah memutuskan dirinya sebagai bakal calon wakil walikota. Namun kenyataan pahit harus dihadapinya. Calon pasangan walikota yang semula digadang-gadang hendak dipasangkan, ternyata memilih pasangan lain.

“Waktu itu sudah tanggal 8 Februari 2010. Saya hendak digunting lawan-lawan politik agar tak bisa maju dalam pilkada,”tuturnya. Tanggal 13 Februari, KPUD Medan memang akan menutup masa pendaftaran calon dari Parpol. Namun keajabain Tuhan datang, demikian istilah Sofyan. Tanggal 10 Februari ia dipanggil Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri ke Jakarta. Di depan pengurus DPP PDI Perjuangan lain, Megawati langsung bilang: “Sofyan kamu harus maju sebagai calon walikota Medan!”ujar Sofyan.

Terkejut adalah reaksi pertama yang ia perlihatkan. Itu manusiawi. Ia mengaku sempat seperti tak menginjak bumi. Tapi semangat Sofyan bangkit setelah muncul kesadaran bahwa kepercayaan yang diberikan PDI Perjuangan dan Megawati Soekarnoputri adalah sebuah amanah. Apalagi ketika tanggal 11 Februari, Pengurus DPP PDS (Partai Damai Sejahtera) juga ikut mencalonkannya.

“Jadi saudara-saudara sekalian, Sofyan Tan, putra asli Sunggal, akhirnya malah dipercaya untuk menjadi calon walikota, bukan calon wakil walkota lagi,”katanya. Ia berharap kepercayaan itu tak disia-siakan oleh masyarakat Sunggal. Walau berasal dari etnis Tionghoa, Sofyan mengaku bahwa jabatan walikota adalah jabatan untuk masyarakat Medan. Bukan jabatan untuk suku-suku tertentu saja.

Dalam kesempatan itu, Sofyan juga menyinggung sekilas visi-misinya jika terpilih sebagai walikota Medan. Ia berjanji bahwa jalan menuju Sunggal yang selalu berlobang-lobang, akan ia aspal dan muluskan. Ia juga sudah memprogramkan memberikan beasiswa bagi 2.000 anak-anak SMA atau sederajat yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Orang-orang yang mengurus izin usaha juga tak perlu susah-susah lagi. Kami sudah memprogramkan izin usaha keliling, termasuk untuk pembuatan KTP dan KK,”tambahnya.

Acara “Malam Pemberangkatan Putra Sunggal dr. Sofyan Tan Menujui Kursi Medan 1” juga diramaikan sejumlah pentas kesenian. Acara berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Walau cuku larut, tak terlihat ada gurat kelelahan di wajah warga Sunggal.

Beberapa warga Tionghoa Sunggal yang diminta komentarnya mengaku sangat senang mendengar secara langsung pidato Sofyan Tan.

“Bagi saya, Sofyan itu ibarat Cahaya Kota Medan yang dikirim dari Sunggal,”ujar A Kiam. Semula A Kiam hanya sering mendengar nama Sofyan Tan. Tapi malam itu ia mengaku beruntung karena dapat melihat sendiri Sofyan Tan. Ia mengaku menjadi semakin mantap untuk memilihnya. Ia lalu mengutip sebuah pepatah Mandarin. “Thuan Ciek Ciu Se Lik Liang”, yang artinya kurang lebih begini: “jika kita bersatu, maka kita akan kuat!” Wah, setuju!

** Dimuat Harian Medan Bisnis, 13 April 2010

Minggu, 04 April 2010

Sofyan Tan Sumbang Buku ke Perpustakaan Rutan Medan

Medan, Xun Bao

Ungkapan Buku adalah Gudang Ilmu tampaknya disadari betul oleh calon Walikota Medan dr Sofyan Tan. Karenanya, dia menyumbangkan buku untuk perpustakaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Tanjung Gusta Medan, akhir pekan kemarin untuk menambah wawasan dan pengetahuan warga binaan di rutan tersebut.

Buku ini bermanfaat untuk dibaca terutama bagi kita yang ingin menggapai sukses dalam hidup. Semoga buku ini menjadi sumber inspirasi, ujar Sofyan Tan ketika dalam sambutannya dihadapan warga binaan rutan.

Dikatakan Sofyan, buku tersebut menceritakan bahwa kesuksesan diraih bukan tanpa hambatan. Untuk itu, siapa saja yang ingin sukses harus menanamkan rasa optimis dalam dirinya. Jika kita yakin bisa, maka kita pasti akan bisa meraih sukses itu, jelasnya.

Calon Medan satu yang berpasangan dengan Nelly Aramayanti ini menambahkan,terpilih atau tidaknya dia jadi Walikota Medan, dia tetap akan menyumbangkan buku untuk mengisi kekosongan perpustakaan rutan. Karena, kata dia, buku merupakan salah satu sarana untuk memperoleh ilmu sebagai bekal buat warga binaan rutan untuk melanjutkan hidup. Satu buku mencerminkan sejuta pengetahuan, ujarnya

Sementara itu, Wakil Kepala Rutan Eka Sihombing menyampaikan terima kasih kepada dr Sofyan Tan. Dia berharap buku tersebut dapat bermanfaat bagi warga binaan.

Dalam kesempatan itu, dia mengajak para pengusaha dan seluruh tokoh Kota Medan untuk berpartisipasi menyumbangkan buku seperti yang dilakukan dr Sofyan Tan. (Fuad)

Jumat, 02 April 2010

Sofyan Tan Tak Tega Menyakiti Pohon

MEDAN (SI) – Merasa tak tega menyakiti pohon, calon Wali Kota Medan Sofyan Tan instruksikan pada tim pemenangan dan tim relawan untuk tidak memakukan atribut kampanye ke pohon.

“Itu sudah instruksi resmi yang harus dilakukan tim pemenangan dan relawan untuk tidak menempelkan atribut kampanye dan sosialisasi dengan paku ke pohon. Cukup diikatkan saja,” ujar calon nomor urut 10 itu kepada wartawan di Medan, kemarin.

Pantauan harian Seputar Indonesia (SI) tidak ditemukan satupun poster atau baliho pasangan Sofyan Tan dan Nelly Armayanti yang dipakukan ke pohon. Umumnya atribut kampanye yang menempel di pohon hanya diikat dengan kawat dan tali. Sebagian besar atribut kampanyenya dipasang dengan penyangga dari kayu broti dan papan reklame resmi.

Sofyan menegaskan kalau pohon juga bagian dari makhluk hidup yang tumbuh dan berkembang. Dengan memakukan atribut kampanye ke pohon berarti sama dengan menyakitinya. Bahkan dapat menghambat dan merusak pertumbuhan pohon.

Dia mengaku miris jika pohon penghijauan dijadikan korban untuk mengkampanyekan diri. Padahal pohon memberikan oksigen untuk kehidupan manusia. “Pohon itu memberikan oksigen bagi kita. Jadi kenapa harus disakiti dengn memakukan poster kita ke batangnya. Ini sama saja dengan perbuatan zalim,” ujar pemilik Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda itu.

Untuk itu dia menegaskan dan meminta pada masyarakat untuk segera memberitahu ke sekretariat tim pemenangan atau relawan yang tersebar di setiap kelurahan jika ada ditemukan atribut kampanyenya yang dipakukan ke pohon. Dia siap mencabutnya sesegera mungkin.

“Mungkin masih ada satu dua poster yang begitu. Karena itu saya minta untuk segera dilaporkan untuk dicabut. Karena instruksi saya jelas untuk tidak memakukan atribut kampanye di pohon,” tegasnya.

Calon Wakil Wali Kota Medan Nelly Armayanti menambahkan kalau komitmen mereka sangat tegas dan jelas. Jangankan untuk menyakiti perasaan rakyat, pohon pun tak luput dari perhatian mereka.

“Kalau pohon saja kami tidak berani menyakitinya apalagi masyarakat. Karena itu komitmen kami jelas dan tegas maju untuk perubahan dan perbaikan,” tandas mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Medan itu.

Sebelumnya, Pemko medan sudah mengeluarkan rambu larangan untuk tidak memakukan atribut kampanye dan sosialisasi di pohon penghijauan. Namun himbauan tersebut sepertinya tak digubris oleh sebagian besar pasangan calon. Sebab hampir semua pasangan calon menempelkan posternya di pohon dengan paku.

(m rinaldi khair)

Kamis, 01 April 2010

PEDAGANG TAK PEDULI ETNIS CALON WALIKOTA

MEDAN (SI) – Pedagang Pasar Tradisional Simpang Melati, Kelurahan Tanjung Selamat, Medan Selayang mengaku sudah tidak peduli lagi dari mana asal dan etnis calon wali kota Medan. Sebab bagi mereka semuanya belum ada yang berpihak pada pedagang pasar.

“Tidak peduli kami dari etnis mana yang jadi calon. Semuanya sama saja. Meskipun dari etnis yang sama pun tetap saja kami digusur-gusur,” kata Eka Maria Ginting salah seorang pedagang sayur di Pasar Simpang Melati ketika di kunjungi pasangan calon Wali Kota Medan Sofyan Tan dan Wakil Wali Kota Medan Nelly Armayanti kemarin.

Eka Maria merasa lelah setiap hari harus berhadapan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Medan yang melarang mereka berjualan. Padahal yang mereka lakukan untuk memenuhi nafkah keluarga.

Dia menegaskan, kalau umumnya pedagang siap mendukung calon manapun meskipun bukan dari etnis yang sama dengan mereka untuk maju sebagai Wali Kota Medan selama ada kepastian kalau pedagang pasar tradisional tidak akan digusur lagi.

“Meskipun dari etnis tionghoa kami siap mendukung dan memilihnya kalau dapat memberikan kepastian kami tidak akan digusur terus untuk berjualan,” ujarnya.

Hal yang sama juga dikatakan Litna salah seorang pedagang buah di pasar tersebut. Dia tidak akan memilih calon wali kota yang satu marga atau satu suku kalau tetap hanya menyengsarakan rakyat kecil yang ingin mencari nafkah halal di Kota Medan.

Litna mengaku lelah harus berhadapan dengan Satpol PP setiap kali ingin berjualan. “Kami dari jam dua tadi belum bisa berjualan karena diusir Satpol PP. Bahkan di atas parit pun tidak boleh,” katanya.

Mendengar keluh kesah para pedagang tersebut, calon nomor urut 10, Sofyan Tan menegaskan tidak ada yang berhak menggusur para pedagang kecil selama belum ada solusi yang dapat ditawarkan. Pemerintah tidak bisa sewenang-wenang mengerahkan aparatnya menggusur para pedagang tanpa memberikan jalan keluar.
“Selama belum diberikan solusi bagi pedagang pasar tradisional, tidak seorang pun bahkan pemerintah melarang mereka dalam mencari nafkah yang halal. Pedagang harus melawannya jika itu dilakukan,” kata Sofyan Tan yang didampingi Nelly Armayanti.

Menurutnya solusi bagi pedagang tradisional sangat mudah jika kepala daerahnya bersih dan memiliki kemauan kuat untuk memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. Pedagang cukup diberikan rasa aman dan nyaman untuk berdagang di lokasi yang layak dan tidak jauh dari tempatnya berjualan. Pemerintah bisa mensubsidinya atau bekerja sama dengan perusahaan melalui program corporate social responsibility (CSR/tanggung jawab social perusahaan) yang tidak mengikat.

Sumber: Sindo, Kamis, 1 Januari 2010, foto: http://www.sumutcyber.com/



Selasa, 30 Maret 2010

Komitmen Bangun Gedung Olahraga Bertaraf Internasional; Pasangan dr Sofyan Tan-Nelly Armayanti Silaturahmi ke Harian Analisa

Medan, (Analisa)
Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Medan periode 2010-2015, dr Sofyan Tan-Nelly Armayanti, SP MSP berkomitmen membangun gedung olahraga bertaraf internasional sehingga bisa menjadi kebanggaan warga Medan.

"Saya akan memprioritaskan membangun gedung olahraga bertaraf internasional. Ini impian jika saya berhasil menjadi Walikota Medan," kata calon walikota Medan, dr Sofyan Tan didampingi wakilnya, Nelly Armayanti, SP MSP ketika bersilaturahmi ke Harian Analisa Medan, Selasa (30/3).
Silaturahmi diterima Pemimpin Umum Harian Analisa, Supandi Kusuma didampingi pemimpin perusahaan, Sujito Sukirman, Sekretaris Redaksi, War Djamil, dan Redaktur Kota, H Hermansjah, SE.

Dalam kesempatan itu, pasangan Sofyan Tan-Nelly Armayanti didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Medan, Hendri John Hutagalung, SE, SH, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumut, Eddy Djuandi, Ketua PSMTI Kota Medan, Karya Elli, anggota DPRD Kota Medan, Hasyim SE, dan Sekretaris Tim Pemenangan Fakker Bustami, SH dan rombongan lainnya.

Sofyan Tan menjelaskan, selama ini gedung olahraga yang bisa dijadikan kebanggaan kota Medan belum ada. "Kami merasa tertantang karena sejumlah olahraga di Medan sudah memiliki prestasi internasional seperti Wushu. Bahkan memiliki tempat latihan yang dikagumi banyak orang dan dibangun swasta, tentu pemerintah akan malu tidak mampu membangun yang lebih bagus," katanya.

Dia juga menyampaikan visi yang sederhana ingin membangun Kota Medan yang tertata sejahtera, manusiawi, dan modern.
Tertata artinya agar kotaMedan memiliki ruang publik yang jelas, seperti punya taman yang jelas, punya lapangan olahraga yang jelas, karena rakyat butuh ruang-ruang terbuka karena butuh tempat rekreasi.

Sejahtera, rakyat bisa sejahtera apabila SDM mantap. Tetapi harus tahu, katanya masyarakat banyak yang miskin untuk bisa menikmati pendidikan yang merupakan barang yang mahal. Dia berjanji akan menyelenggarakan pendidikan gratis tidak hanya 9 tahun tapi menjadi 12 tahun, memberikan 2000 beasiswa untuk mahasiswa agar bisa melanjutkan kuliah ketika tidak ada memiliki dana dan memberikan beasiswa kepada 200 orang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2).
Spesialis bangunan

Untuk pendidikan di daerah Medan Tembung akan dibangun SMK yang spesialis bangunan dan di daerah Medan Utara dibangun sekolah yang spesialis di bidang industri serta menjadi Medan Utara menjadi kota satelit.

Di bidang kesehatan, memberikan pengobatan gratis, kepada fakirmiskin dengan memberikan ID card yang jelas.

Pengalamannya sebagai doktor ingin memberikan satu identitas yang jelas agar rakyat tidak kesusahan ketika berobat.
Sedangkan masalah KTP, Sofyan Tan akan menyelenggarakan pelayanan secara keliling sebagaimana dilakukan kepolisian melalui SIM keliling.

Dia akan menyediakan 21 mobil keliling yang akan melayani pengurusan KTP di seluruh kota Medan. "Pelayaan publik, tidak hanya surat KK, KTP tapi juga izin usaha,izin agar pengusaha memiliki identitas yang jelas. Usaha kecil di mobil mengurusn ya. Sedangkan usaha besar melalui internet, dan nanti ditunjuk bank dan persyarata sebagainya.

Sementara Wakilnya, Nelly Armayanti, SP MSP menambahkan bahwa dirinya dan Sofyan Tan memiliki nilai plus yakni sebagian program telah dibuat dan dilaksanakan. "Jika selama ini di luar pemerintah, maka ketika duduk akan dimasukkan ke dalam pemerintah," katanya.

Sementara, Ketua DPC PDI Perjuangan, Hendri John Hutagalung, SE, SH mengatakan PDI Perjuangan merupakan salah satu partai yang lengkap dan nasionalis. Di DPRD Medan dan DPRD Sumut, ada perwakilan dari warga Tionghoa Hasyim dan Brilian Muktar. "Kalau legislatif sudah ada kita coba eksekutif, dan ini kesempatan belum tentu datang dua kali, untuk mari kita dukung.

Sementara Ketua PSMTI Sumut,Eddy Djuandi mengaku dukungannya yang diberikan bukan karena dilihat dari Tionghoanya tapi karena pemikiran yang benar dan nasionalis, dan sebagian visinya telah dikerjakan secara nyata seperti di bidang pendidikan membantu anak-anak yang tidak mampu dengan cara subsidi silang.

Masalah Kelistrikan
Silaturahmi tampak berlangsung penuh keakraban. Dalam kesempatan itu, Pemimpin Umum Harian Analisa, Supandi Kusuma memberikan sejumlah saran di antaranya masalah listrik, bandara udara, gedung olahraga dan kehidupan rakyat miskin kota.

Dia menyarankan, masalah listrik harus menjadi prioritas utama bagi siapa saja yang akan memimpin Kota Medan. Menurutnya, tanpa listrik maka suatu daerah tidak akan maju. Selama ini, katanya listrik sering padam sehingga rakyat menderita. Namun, kini sudah mulai berangsur-angsur pulih. Tapi, katanya rakyat tetap berdoa, yakni berdoa agar tidak padam lagi.

Sedangkan masalah gedung olahraga yang representatif. Dia berharap segera terwujud karena atlit sudah berprestasi di tingkat internasional dan ini patut disyukuri,

"Kalau ada gedung olahraga yangbagus, kota Medan bisa menjadi tempat pariwisata," kata tokoh pers yang juga tokoh olahraga di Sumatera Utara ini.

Dia menceritakan ketika ada kejuaraan Wushu di Bali, datang 44 negara. Selain itu, pada 2013 akan ada event Kejuaraan dunia Senior Wushu, dan akan dihadiri 70 negara. Makanya, kalau ada gedung olahraga yang sanggup dan bagus di Medan akan digelar di Medan karena event ini sudah mendapat dukungan Menpora, KONI Pusat dan IWUF.

Mendengar saran tersebut, Sofyan Tan berjanji untuk listrik KIM akan dilayani oleh pembangkit sendiri karena sebagian besar listrik di Kota Medan disedot KIM. (maf)

MEMBANGUN MEDAN YANG TERTATA. SEJAHTERA DAN MODERN


Kota Medan yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, sejak awal dikembangkan dengan konsep the green city (atau kota hijau). Tidaklah mengherankan jika nama-nama jalan di kota Medan banyak mempergunakan nama buah-buahan dan pepohonan seperti jalan Mangga, Manggis, Langsat, Mahoni, Jati dan lain sebagainya.

Menurut Bachtiar Hazan Miraza, tanaman buah-buahan dan pepohonan itu bahkan ditanam di pinggir jalan atau di halaman rumah penduduk. Semuanya berpengaruh pada semakin hijaunya dan semakin teduhnya kota Medan pada saat itu. Pohon mahoni, pohon kecapi dan pohon keras lainnya juga ditanam dijalan jalan di tengah kota. Pohon mahoni ditanam disepanjang jalan menuju ke pelabuhan Belawan yang panjangnya 25 km dari pusat kota.

Pengembangan kota Medan sebagai kota hijau, tidak terlepas dari sejarah kelahiran kota tersebut yang semula oleh kaum pengusaha perkebunan Eropa, dijadikan sarana untuk tempat peristirahatan, sekaligus kota perdagangan. Rintisan pengembangan Kota Medan itu sendiri, yang oleh orang-orang Eropa dulu dijuluki sebagai ‘Paris van Sumatera” Hindia Belanda, dimulai tahun 1862 ketika seorang pengusaha Belanda, Jacob Nienhuys mengetahui manfaat dari tanah-tanah gunung berapi yang sangat subur untuk usaha perkebunan tembakau. Nienhuys mendesak Sultan Deli agar memberi konsesi penyewaan tanah-tanah tersebut untuk diusahakan sebagai perkebunan tembakau. Ternyata tembakau Deli yang dipakai untuk cerutu dengan cepat menjadi terkenal keseluruh dunia sejak akhir abad ke 19 hingga sekarang.

Selain berhasil menjadikan Deli sebagai daerah perkebunan tembakau, karet dan kelapa sawit, konglomerasi pengusaha Belanda juga berhasil membangun jaringan kereta api yang menghubungkan Langkat, Deli dan Serdang, sebuah jaringan telegram, pelabuhan, irigasi, sarana air bersih dan sekolah-sekolah. Pada abad 19, Medan sudah menjelma sebagai kota perdagangan dan industri perkebunan terkemuka untuk zamannya.
Warisan-warisan kolonialisme konglomerasi ekonomi Belanda, sampai saat ini masih bisa dikenali. Misalnya bangunan-bangunan stasiun kereta api (Deli Spoorweg Maats-cappij), gedung Balaikota, Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, Gedung PT Lonsum (london Sumatera), Hotel Dharma Deli dan Gedung PT Lloyd.

Kisah keemasan ekspor tembakau Deli boleh dibilang seperti sudah tutup layar. Sejumlah lahan perkebunan tembakau di kawasan Kota Medan sudah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan, bisnis dan peruntukan lainnya. Sedikit sekali yang tersisa, kecuali lahan-lahan perkebunan yang secara administratif tergabung dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang. Kota Medan dalam perkembangannya menjadi kawasan yang miskin dengan hasil-hasil sumber daya alam. Kota ini, terutama, menghidupi diri dari jasa perdagangan dan perhotelan serta industri.

Transformasi ekonomi perkebunan ke ekonomi modern, sebenarnya sudah dimulai sejak dekade 1980-an. Kala itu ekonomi Indonesia memperoleh rezeki nomplok dari naiknya harga minyak mentah di pasar dunia. Imbasnya terasa sampai ke Sumatera Utara, khususnya Medan. Hadirnya industri sumpit, pakaian, makanan, gelas, hingga kimia, berbarengan dengan tumbuhnya pusat perbelanjaan, bank swasta, hotel, perbengkelan, dan lain-lain, telah membuka peluang tumbuhnya ekonomi perkotaan Medan.

Sejalan dengan itu, perkembangan kota Medan sebagai kota industri, perdagangan dan jasa, juga tidak terlepas dari posisi geografis yang strategis. Sebagaimana diketahui, kota Medan di sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, di mana di Kecamatan Medan Belawan terdapat Pelabuhan Laut Belawan yang merupakan pintu gerbang pengangkutan barang dari Pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya. Sedangkan di bagian barat terdapat Bandara Internasional Polonia.

Posisi ini menjadikan Medan berkembang sebagai pintu gerbang perdagangan barang dan jasa domestik maupun internasional. Lewat Bandara Polonia, kota Medan memiliki hubungan langsung dengan Penang (Malaysia), Kualalumpur (Malaysia), Ipoh (Malaysia), Langkawi, Singapura sementara penerbangan di dalam negeri dari Medan mempunyai frekuensi tinggi khususnya dengan ibukota negara Jakarta, Denpasar (Bali) dan beberapa tujuan lain di pulau-pulau bagian barat Indonesia. Dewasa ini, Medan juga sudah mempunyai penerbangan langsung dari Medan ke Korea Selatan dan sebaliknya.

Dominannya sektor perdangan dan industri dalam mengisi struktur ekonomi Medan bertahan hingga sekarang. Hal ini misalnya tercermin dari perbandingan peranan dan kontribusi antar lapangan usaha terhadap PDRB pada kondisi harga berlaku tahun 2005-2007, yang menunjukkan bahwa pada 2005, sektor tertier memberikan sumbangan sebesar 70,03 pesen, sektor sekunder sebesar 26,91 pesen dan sektor primer sebesar 3,06 persen. Lapangan usaha dominan yaitu perdagangan, hotel dan restoran menyumbang sebesar 26,34 persen, sub sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen dan sub sektor industri pengolahan sebesar 16,58 persen.

Kontribusi tersebut tidak mengalami perubahan berarti bila dibandingkan dengan kondisi tahun 2006. Sektor tertier memberikan sumbangan sebesar 68,70 persen, sekunder sebesar 28,37 pesen dan primer sebesar 2,93 persen. Masing masing lapangan usaha yang dominan yaitu perdagangan, hotel dan restoran sebesar 25,98 persen, sektor transportasi dan telekomunikasi sebesar 18,65 persen, industri jasa pengolahan sebesar 16,58 persen dan jasa keuangan 13,41 persen.

Demikian juga pad a tahun 2007, sektor tertier mendominasi perekonomian Kota Medan, yaitu sebesar 69,21 persen, disusul sektor sekunder sebesar 27,93 persen dan sektor primer sebesar 2,86 persen. Masing-masing lapangan usaha yang dominan memberikan kontribusi sebesar 25,44 persen dari lapangan usaha perdagangan/hotel/restoran, lapangan usaha transportasil telekomunikasi sebesar 19,02 persen dan lapangan usaha industri pengolahan sebesar 16,28 persen. (BERSAMBUNG)

Senin, 29 Maret 2010

Pasangan No 10 Sofyan Tan-Nelly Armayanti Berkunjung ke Harian SIB, Sektor UKM di Medan Jadi Prioritas dengan Pembenahan 56 Pasar Tradisional

Medan (SIB)
Sektor usaha kecil menengah (UKM) atau kalangan pelaku bisnis ekonomi lemah (Ekolem) lainnya, akan dijadikan prioritas utama bila kandidat calon walikota Medan dokter Sofyan Tan, bersama calon wakilnya Nelly Armayanti SP MSP, nantinya terpilih dan duduk sebagai walikota dan wakil walikota periode 2010-2015 dalam Pilkada Kota Medan 12 Mei mendatang.

“Kalau rakyat kota Medan nanti memilih kami (dalam Pilkada Kota Medan) dan menang untuk duduk memimpin kota ini, hal pertama yang akan kami kerjakan adalah membenahi sektor UKM, antara lain membangun dan menata 56 pasar-pasar tradisional di seputar kota Medan. Ini merupakan komitmen kebijakan terpadu pemerintah kota untuk mengatasi masalah pengangguran, khususnya membuka lapangan kerja dan menjamin hak berusaha bagi warga kota itu sendiri, sehingga bisa dihindari tindakan gusur menggusur,” papar Sofyan Tan kepada SIB di Medan, Senin (29/3).

Dia mengutarakan hal itu dalam kunjungan audiensinya ke kantor Harian SIB Medan, yang diterima Sekretaris Redaksi Manapar VT Manullang (mewakili Pemimpin Umum/Pemred DR GM Panggabean) bersama Kepala Divisi Ekonomi & Bisnis Drs Ads Franse Sihombing dan wartawan Wilfried Sinaga SH. Sofyan Tan bersama Nelly Armayanti disertai tim-nya: Kaman Ginting, Takkel Boestami GSH dan Arifin. Di sela-sela audiensi, Sofyan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Damai Sejahtera (PDS) Kota Medan itu, menegaskan Harian SIB merupakan media yang pertama mereka kunjungi menjelang Pilkada Kota Medan 2010.

Selain memperkenalkan diri lebih dekat dengan presentasi profil sebagai calon walikota bersama pasangannya Nelly Armayanti sebagai calon wakil walikota, pasangan No. 10 dengan motto: ‘Maju untuk Perubahan’ atau ‘Kita juga Bisa’ itu, juga memaparkan ringkasan visi-misi atau konsep kerja yang akan ditawarkan kepada masyarakat Kota Medan selaku para calon pemilihnya. Sementara Budiman Nadapdap dari PDIP yang merupakan kordinator Tim Sukses pasangan itu.

Beberapa konsep yang ditawarkan itu adalah tindak rayonisasi sektor pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah kejuruan atau khusus di wilayah atau kawasan yang berpotensi spesifik. Dia mencontohkan kawasan Medan Utara yang sarat dengan sektor industri, idealnya harus dominan dengan pembangunan sekolah kejuruan bidang industri atau semacamnya. Sehingga, kelak kawasan itu kemudian cepat berkembang sebagai kawasan atau kota satelit, yang perkembangannya akan setara dengan kondisi kota yang baru mekar tanpa harus pemekaran.

Konsep lainnya adalah tindak mengatasi kemacetan lalu lintas yang sejalan dengan penataan ulang sistem parkir kendaraan di seputar kota Medan. Misalnya, dengan upaya memfungsikan kembali rel-rel kereta api yang ada di seputar kota untuk mengoperasikan kembali armada kereta api lokal lintas dalam kota Medan. Sofyan yang juga Ketua Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) itu mencontohkan, hanya dengan Rp 2.000-Rp 3.000 untuk ongkos naik kereta api, warga kota Medan sudah bisa menempuh berbagai tujuan yang terintegrasi di seputar kota Medan, sementara kalau naik armada angkutan kota (Angkot) selama ini, warga harus mengeluarkan rata-rata Rp 9.000 per hari karena harus menempuh jarak dengan rata-rata tiga kali ganti armada angkutan.

“Dari aspek sosial, bisa saja hal ini akan mengundang konflik bila terjadi semacam protes kalangan operator atau pengusaha angkutan kota. Tapi dengan pola sosialisasi terpadu kita akan tegaskan bahwa tindakan ini bukan untuk mematikan lahan atau bisnis angkutan, melainkan untuk tidak menambahi armada yang sudah ada. Jadi, kemacetan dengan padatnya armada bisa dihindari, masalah parkir teratasi dan kebutuhan masyarakat akan jasa angkutan yang integral juga akan terpenuhi. Soal potensi konflik yang selalu muncul bila ada kebijakan baru, itu kan hal biasa.

Hal terpenting kan bagaimana kita mampu mengatasi (managemen) konflik itu selaku pimpinan. Tapi yang jelas, dalam setiap menetapkan kebijakan saya, atau kami (dengan pasangannya-Red.) akan memastikan untuk tidak terjebak atau terlibat dalam segala bentuk praktek korupsi, termasuk dalam pembenahan 56 pasar tradisional yang berpotensi memperoleh pendapatan asli daerah (PAD) antara Rp 600 miliar hingga Rp 800 miliar per tahun nantinya. Lagi pula, di antara 10 pasang kandidat calon walikota dan wakil walikota 2010-2015 ini, saya satu-satunya calon yang tak punya famili di kalangan polisi atau KPK dsb. Sehingga kalau ada apa-apa atau korupsi, saya pasti langsung digari” katanya sembari memperagakan kedua tangannya berdempet (bagai diborgol).

Pasangan nomor 10 mengusung delapan konsep untuk mewujudkan Kota Medan yang tertata, Manusiawi, Sejahtera dan Modern, yaitu: (1) Pembangunan kota yang berkelanjutan yang berorientasi sosial dan berpihak pada kaum miskin (misalnya pengadaan taman bermain anak-anak, dsb). (2). Penyediaan lapangan kerja dan berusaha bagi warga kota. (3). Jalinan dan jaminan akses warga kota ke sumber pembiayaan ekonomi. (4). Pendidikan dan kesehatan yang terjangkau kaum ekonomi lemah. (5). Kesetaraan gender dalam pembangunan dan pemerintahan kota. (6). Pelibatan warga dalam pembangunan kota. (7). Pelayanan publik (KTP, Askes dsb) yang mudah, murah dan cepat, dan (8). Tata pemerintahan yang bersih, transparan, akuntabel dan bebas kolusi-korupsi-nepotisme (KKN). (M9/d)